Menghentikan Budaya Kekerasan

KASUS kekerasan kembali menodai Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Salah satu mahasiswa tingkat pertama, Amirulloh Adityas Putra, 18, meninggal setelah diplonco oleh seniornya. Diduga, dia meninggal setelah dipukul bertubi-tubi pada sekujur tubuhnya, hingga berakibat fatal.

Kasus meninggalnya Amirulloh tentu patut mendapat perhatian publik, karena kasus kekerasan di kampus tersebut bukan kali ini saja. Tercatat, dalam lima tahun terakhir, ada lima mahasiswa tingkat pertama menjadi korban kekerasan para senior, hingga berakibat kematian. Berulangnya kekerasan yang berakibat kematian tersebut menunjukkan bahwa kekerasan sudah menjadi budaya di kampus tersebut.

Kekerasan berbeda dengan penegakan disiplin, karena kekerasan lebih menekankan pendekatan fisik  dan pemaksaan, bukan menggugah  kesadaran. Alih-alih mampu menggembleng intelektualitas mahasiswa, kekerasan pun tidak akan mampu membangun disiplin. Yang muncul justru dendam tak berkesudahan dan kian berkembangnya budaya  kekerasan itu sendiri.

STIP sebagai institusi pendidikan tentu memahami betul kekerasan bukanlah metode pengajaran yang baik dan beradab. Apalagi, terbukti kekerasan hanya menimbulkan korban jiwa dan menjatuhkan kredibilitas kampus tersebut di mata masyarakat. Belum lagi, para pimpinan di STIP juga terkena dampak dari rangkaian kasus kekerasan tersebut, yakni harus dipecat dari jabatannya.

Berdasarkan penjelasan pimpinan STIP, lembaga pendidikan tersebut sebenarnya telah merespons rangkaian kekerasan yang terjadi. Sebelum kasus kekerasan terakhir mencuat, misalnya, kampus sudah berikhtiar menggerakkan 23 pengawas untuk mengawasi kampus dan memasang CCTV di berbagai sudut kampus. Tapi ternyata STIP masih saja kecolongan.

Fakta ini menunjukkan bahwa serapi apa pun sistem yang dibuat, selama budaya kekerasan masih bersemayam di kampus tersebut, ibarat api dalam sekam setiap saat kekerasan pasti akan muncul. Budaya yang sudah terbentuk akan mendorong para mahasiswa untuk memanfaatkan sekecil apa pun kesempatan untuk melampiaskan dendam yang sudah terpendam untuk melakukan kekerasan.

Dengan pemahaman ini, menghentikan kekerasan di kampus STIP bukan sekadar membangun sistem pengamanan atau memberikan efek jera dengan menindak tegas mahasiswa maupun pimpinan kampus, melainkan juga menghilangkan budaya kekerasan itu sendiri. Sistem memang sangat penting sebagai bagian manajemen risiko untuk meminimalisasi ruang gerak kekerasan, tapi menghentikan kekerasan jauh strategis.

Menghentikan kekerasan tentu bukan perkara mudah, karena menyangkut cara pandang dan perilaku yang sudah menjadi tradisi dan dianggap sebagai keharusan yang harus dilestarikan dan dijalankan. Karena itu, untuk menghilangkannya dibutuhkan langkah mendasar dan berkesinambungan untuk memotong estafet budaya kekerasan.

STIP bisa meniru langkah yang pernah dilakukan Kemendagri  saat berupaya menghentikan budaya kekerasan di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor. Salah satu langkahnya adalah memisahkan mahasiswa baru di kampus yang berbeda, dalam hal ini di kampus Jalan Ampera, Jakarta Selatan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply