Kepala Satpol PP Gunungsitoli Bantah Pesta Miras, Hanya Makan Siang

Gunungsitoli, NiasKita.com

Murni Darma Zebua, SH, Kasat Pol PP Kota Gunungsitoli menanggapi dingin pemberitaan terkait dirinya di beberapa media online yang umumnya bertajuk Pesta Miras. Ditemui di ruang kerjanya di Kantor Satpol PP Kota Gunungsitoli, Jl. Pancasila, Gunungsitoli,Rabu (17/04), ia menilai pemberitaan itu sangat sensasional dan tendensius. “Jadi tanggapan saya biasa saja, silahkan saja apabila ada keyakinan yang demikian kuat bahwa faktanya seperti itu. Tapi kalau tidak ada fakta, buat apa bikin sensasi,” katanya.

Murni Darma Zebua menjelaskan dirinya tidak begitu menanggapi berita itu, tapi karena berita itu terkait dengan jabatan dan institusi Sat Pol PP Kota Gunungsitoli, maka pihak nya sedangkan memikirkan langkah apa yang harus dilakukan. “Sementara ini, belum ada tindaklanjut,” jelasnya.

Ia menilai pemberintaan tentang dirinya sangat tendensius dan sangat berlebihan, bahkan memutarbalikkan fakta. “Masyarakat sudah bias menilai kapasitas sumber-sumber yang berkomentar, siapa dan apa mereka, apakah layak memberikan penilaian terhadap kinerja kami,” ujarnya.

Menurut Murni Darma Zebua kejadian ini berawal ketika pihaknya menghadiri pertemuan antara Pemko Gunungaitoli dengan tokoh masyarakat terkait dengan penghentian operasi peternakan ayam petelur milik PT. DAS di desa Olora, Kecamatan Gunungsitoli Utara, pada Selasa 10 April 2018. Pada pertemuan itu turut hadir tiga kepala desa (Kepala Desa Olora, Onozitoli Olora, Hilimbowo Olora), Camat dan staf, dari Kodim 0213 Nias, Polres Nias, anggota DPRD Saharman Harefa. Sedangkan dari pihak Pemko hadir dari Dinas Lingkungan Hidup, Asisten I, Kepala Sat Pol PP dan Sekda Ir. Agustinus Zega. Pertemuan ini sendiri dipimpin Sekda Ir. Agustinus Zega, sehingga menjadi kewajiban Sat Pol PP untuk mengawal pelaksanaan pertemuan tersebut.
Acara tersebut berlangsung alot sehingga selesai melewati pukul 14.00 WIB siang. Karena tidak disediakan makan siang, anggota Satpol PP yang mengawal pertemuan tersebut kelaparan. Beberapa anggotaSatpol PP mengeluh kepada Murni Darma Zebua sebagai pimpinan mereka.

Masih menurut Murni Darma Zebua, ia lalu mengambil inisiatif untuk mampir di warung salah seorang anak buahnya di Satpol PP yang berada di dekat Pelabuhan Gunungsitoli. Karena agak siang, ketika mereka masuk banyak orang yang duduk makan dan minum sambil menikmati pemandangan laut di luar warung. Melihat ada tamu yang mau makan juga, yang duluan di warung pun keluar karena sudah selesai makan.

Mereka pun duduk di kursi yang kosong dengan meja masih berisi sisa-sisa makanan dan minuman orang sebelumnya. Lalu, ia salah seorang anak buahnya memfoto dan men-share foto tersebut di facebook. Sang anak buah tak sadar bahwa foto tersebut akhirnya membuahkan interpretasi dari berbagai kalangan, terutama adanya botol minuman di atas meja yang belum sempat dibersihkan oleh pemilik warung karena sibuk mempersiapkan makanan pesanan mereka. Maka dalam foto itu, seolah-olah mereka sedang mengkonsumsi minuman botolan beralkohol kadar rendah, sejenis bir tersebut.

Luar biasanya, foto tersebut pun dijadikan sumber berita oleh wartawan media online disertai dengan kutipan komentar dari beberapa anggota masyarakat. Akhirnya sebuah berita yang dikema ssedemikian rupa sehingga seolah dirinya memimpin sebuah pesta minuman keras.

Ia menyayangkan pemberitaan itu hanya berdasarkan foto yang dikutip dari halaman facebook tanpa menelusuri duduk persoalan keberadaan foto tersebut. “Itu bukan foto dari wartawan, dan tidak ada satupun wartawan yang pernah mengkonfirmasi pada saya. Berita itu rata-rata dimuat per tanggal 14 April 2018, bukankah sejak foto diposting tanggal 10 April mereka punya waktu untuk menemui saya dan mengkonfirmasi sebelum memuatnya, tapi itu tidak mereka lakukan, lalu mengklaim acara makan siang itu sebagai pesta miras. Pemberitaan itu benar-benar jahat,” ujarnya.

Murni Darma Zebua mengatakan bahwa tidak benar ada pesta miras karena mereka hanya sekedar makan siang seusai melaksanakan tugas di wilayah Kecamatan Gunungsitoli Utara. “Saya mengajak anak buah saya makan siang di warung milik salah seorang anak buah saya juga. Kami terlambat makan karena menjalankan tugas, dan kami baru makan pukul 15.00 WIB. Kalau pesta miras tentu ada yang mabuk, ada yang teler, siapa yang mabuk beritahu saya. Itu saja, tidak ada penjelasan lain,” ujarnya.
Soal adanya pemberitaan itu, ia menyebutkan dirinya tidak pusing dengan persoalan itu. “Itu urusan mereka yang memberitakan. Saya tidak mau pusing dengan berita-berita yang sensasional, saya focus melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan Pak Walikota pada saya. Kalau pekerjaan saya sebagai Kasat Pol PP tidakbenar, silahkan diberitakan agar masyaraka bias menilai dan Pak Wali pun tahu serta mengambil tindakan, kalau hoaks hanya habis-habiskan waktu dan tenaga membahasnya,” ujarnya.

Sementara itu, Murnida Zebua, salah seorang pengurus LSM di Gunungsitoli ditemui NiasKita mengatakan bahwa pemberitaan itu hendaknya sesuai dengan kode etik wartawan, dilakukan check and recheck, cover both side (beritaberimbang) serta tidak mencampurkan opini dengan fakta, bahkan menyembunyikan fakta dibalik opini serta menghakimi seseorang.
“Masya orang makan saja dan santa iduduk dikatakan pesta minuman keras. Lagi pula foto itu bukan hasil jepretan siwartawan, hanya sebuah foto yang dikutip di FB, jadi dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, tapi menginterpretasikan sendiri menurut kebutuhannya. Untuk akurasi berita sebaiknya harus turun ke lapangan untuk mengecek kebenarannya,” jelasnya. (sam)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply