Benarkah Dandim 0213 Nias Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon Intimidasi Wartawan?

NiasKita.com – Gunungsitoli
Dandim 0132 Nias membantah telah melakukan intimidasi terhadap seorang wartawan dan menyayangkan pemberitaan terhadap dirinya yang seolah-olah tidak bersahabat dengan media massa.
Hal itu diungkapkan Dandim 0213/Nias Lektol Inf. TP. Lobuan Simbolon kepada wartawan di ruang pertemuan Kodim 0213/Nias, Jl. Gomo, Gunungsitoli, Selasa (03/12). Turut hadir Kasdim 0213 Nias Mayor Arm Utuh Saragih, Dansub Denpom 1/2-5 Nias Kapten CPM Wigus Siswoyo dan Dan Unit Intel Dim 0213 Letda Inf. JRE Manurung.
Dalam temu pers yang dihadiri lebih 20 wartawan dari berbagai media massa yang bertugas di Gunungsitoii, Letkol Inf. TP. Lobuan Simboolon menyebutkan bahwa dirinya tidak pernah bersikap arogan terhadap masyarakat, lebih-lebih kepada media.
“Saya terkejut dengan pemberitaan yang menyebutkan saya mengintimidasi wartawan dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Sebagaimana dilansir oleh salah satu media online sebelumnya yang memberitakan dirinya mengintimidasi wartawan ketika melakukan konfirmasi dengan dirinya terkait dengan kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh salah seorang perwira yang bertugas di Kodim 0213 terhadap seorang anak buah kapal (ABK) di Pelabuhan Gunungsitoli.
Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon menjelaskan bahwa dirinya ketika dihubungi per telepon seluler oleh wartawan media online tersebut sedang mengikuti ibadah di salah satu gereja di Jakarta. Namun si wartawan beberapa saat kemudian kembali menghubungi via telepn selular, Letkol Inf. TP. Lobuan Simbolon mengaku sedang mengemudi kendaraan roda empat pulang dari gereja ketika itu.
Dia menyebutkan saat itulah terjadi percakapan dengan si wartawan yang menanyakan tentang dugaan pemukulan terhadap ABK oleh perwira di Kodim 0213/Nias.
Diakuinya, dirinya berulangkali meminta kepada si wartawan untuk bersabar menunggu hasil penyelidikan pihak Sub Denpom 1/2-5 Nias karena kasus ini telah dilaporkan dan ditangani pihak polisi militer tersebut.
“Saya heran koq saya dipaksa untuk membuat pernyataan atas masalah ini, sementara saya sudah menjelaskanr supaya ditunggu hasil pemeriksaan pihak Sub Denpom 1/2-5 Nias,” katanya.
“Kalau saya membuat pernyataan tanpa data dan fakta, kan bisa menyesatkan opini masyarakat, sementara hasil penyelidikan belum selesai” tambahnya.
Ia mempertegas bahwa ada WA dari si wartawan dengan isi sebagai berikut:
*apa tindakan bapak selaku pimpinan terhadap oknum kapten tersebut yang telah melakukan penganiayaan kepada ABK wira glori.*
“Bagaimana saya harus menjelaskan tindakan apa yang akan saya ambil, kita aja belum tahu duduk persoalannya apa. Dan untuk mencari tahu itu menjadi tugas Polisi Militer. Berdasarkan hasil penyelidikan itu barulah kita tahu langkah apa yang akan diambil, dan semuanya itu prosedural sesuai yang berlaku di lingkungan TNI,” ujarnya.
Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon menyebutkan bahwa kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan dan hanya kesalahpahaman kedua belah pihak. Ditambahkannya bahwa laporan atas kasus tersebut telah dicabut oleh pelapor.
Dalam kesempatan itu Dansub Denpom 1/2-5 Nias Kapten CPM Wigus Siswoyo membenarkan hal tersebut dan mengatakan bahwa kasus yang dilaporkan tersebut telah selesai secara kekeluargaan.
“Pihak Pelapor telah mencabut laporannya,” tegas Kapten CPM Wigus Siswoyo.
Sementara itu, Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon menyayangkan tudingan terhadap dirinya yang kurang kooperatif. Bahkan ia juga heran apa maksud omongannya dituangkan dalam tulisan secara vulgar tanpa editan, “Dipotong sana-sini, lalu ditulis begitu saja. Ada tendensi ingin mempermalukan Dandim,” katanya.
Sekaligus menjawab pertanyaan wartawan, Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon memutar rekaman pembcaraannya dengan wartawan media online tersebut. Rekaman yang berdurasi kurang lebih 5 menit tersebut, terdengar jelas pembicaraan wartawan tersebut dengan Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon .
Dari rekaman tersebut, tidak ada terdengar satu kata pun yang dapat diindikasikan ucapan intimidasi dari Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon terhadap pekerjaan wartawan atau terhadap wartawan tersebut. Bahkan terdengar beberapa kali permintaan Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon supaya menunggu hasil penyelidikan pihak.
Juga beberapa kali terdengar kata ‘bantulah orangtua’ agar pemberitaan tidak melebar yang dapat menimbulkan bias negatif dan sekaligus menunggu hasil pemeriksaan. Pemberitaan yang tidak utuh dapat menggiring opini masyarakat ke arah negatif dan itu berdampak bagi institusi militer.
Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon juga beberapa kali menyebutkan si wartawan ‘bos’ sebagai ungkapan keakraban. Namun, si wartawan memaksa Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon untuk memberikan pernyataan dan tindakan terhadap dugaan pemukulan terhadap ABK tersebut.
“Kita bisa juga jadi emosian dipaksa kalau dipaksa memberikan pernyataan. Lalu pernyataan apa yang akan saya berikan sementara kasusnya dalam proses penyelidikan,” katanya.
Seusai memutar rekaman tersebut Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon mengatakan dirinya sangat menghargai profesi wartawan sekaligus membutuhkan kerjasama media massa dalam mensukseskan berbagai tugas TNI di Nias.
“Kalau ada rekan media yang tersinggung dengan ucapan saya dalam rekaman itu, apakah saya tidak menghargai media, menghalangi dan mengintimidasi pekerjaan wartawan atau menghina dan membuat rekan wartawan tersinggung, tolong disampaikan pada saya. Kalau saya ternyata salah, saya pasti minta maaf. Tolong diperjelas apakah saya memang mengintimidasi, menghalangi, menghambat dan tidak menghargai wartawan,” ujarnya.
“Saya menghargai pers, buktinya ada rekan wartawan yang menelepon saya layani. Saya bisa saja mematikan telepon selular atau diam saja dan mengatakan no comment. Tapi sayangnya sifat saya yang bersahabat ada juga yang tidak menghargainya. Bukankah dalam rangka menegakkan kewibawaan TNI, saya bisa saja menjaga jarak dengan rekan media, berhubungan secukupnya saja atau cukup dengan staf saya saja,” jelasnya.
Wartawan yang mendengar penjelasan Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon dan rekaman pembicaraannya dengan wartawan tersebut, juga merasa heran dengan isi pemberitaan media online tersebut.
“Beritanya sangat tendensius, memaksa sumber informasi untuk memberi pernyataan,” ujar salah seorang wartawan.
“Tanpa ingin menilai rekan wartawan, cara konfirmasi berita tersebut melanggar Kode Etik Wartawan Indonesia. Ada upaya men’justice’ sehingga bisa terjadi trial by pers,” katanya.
Diakuinya bahwa profesi wartawan diatur dan dilindungi oleh UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, namun itu bukan berarti bisa terjadi kesewenang-wenangan oleh pers. Untuk menjaga itu, maka ada Kode Etik Wartawan Indonesia, yang mengatur dan menata perilaku profesi, termasuk dalam konfirmasi berita. “Wartawan bukan penyidik, tetapi dapat melakukan investigasi untuk mendapatkan pemberitaan yang benar dan berimbang,” katanya.
Selain membahas pemberitaan terhadap dirinya, Letkol Inf. TP Lobuan Simbolon juga menambilkan video beberapa kegiatan di beberapa desa, seperti pemugaran dan rehabilitas mesjid di Afia dan gereja di Somi. (sam)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan