Binahati B. Baeha, A Man Amongst Men

“Kita semakin hari semakin bertambah, rumah besar kita semakin sempit. Kita butuh rumah- rumah baru, tempat anak-anak kita akan besar.”
Ungkapan Binahati B. Baeha, SH setiap kali berpidato tentang rencana pemekaran di berbagai tempat di pelosok Nias pada tahun 2007 hingga 2008. Sebuah gagasan luar biasa, sebuh mimpi dahsyat.
“Disana, di rumah baru itu, mereka akan besar.”
Ungkapan imajiner pada tahun 2007, sekarang telah terbukti. Banyak sudah orang-orang besar tercipta, bahkan suatu hari mereka akan melegenda, melebih legenda sang maestro pemekaran itu sendiri. Dia pun berlalu, menjauh dari hiruk pikuk itu, bahkan ada ‘orang’ yang ingin menyingkirkan legendanya. Mereka ini, orang-orang yang tidak tahu diuntung, yang tidak mau menerima bahwa ada orang lain yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Terciptalah sudah ‘orang-orang besar’ dari butiran keringatnya waktu itu, dari sebuah penderitaannya selalu kini, dari sebuah ‘cap’ terhadap dirinya selamanya (sesuatu yang tidak bisa lari darinya, yang harus ditebus detik per detik, namun sejarah akan menimbangnya).
Siapakah di antara mereka yang mampu memuncaki legenda Binahati B. Baeha? Mungkin juga mereka akan tersungkur sebelum tangga terakhir, terjerembab lebih dalam, terjatuh dalam jurang kelam, hingga orang malu menceritakannya. Bahkan kepergian mereka disertai cacimakian dan umpatan tak berkesudahan. Sebuah tuaian atas penghianatan terdapat rakyat, kerakusan, keegoan, kecongkakkan dan kehausan akan kekuasaan, kearoganan, ketidakperdulian. Suatu birahi yang melebihi batas, suatu birahi yang lupa bahwa orang lain memiliki birahi juga. Sebuah birahi seorang onan, yang bersenggama dengan dirinya sendiri, yang puas dan hanya memuaskan dirinya sendiri. Saat-saat dimana orang lain hanya menyaksikan pembirahian diri sendiri: pemuasan diri sendiri para pemimpin, mereka harus mengelus dada dan berkata: sabar…
Siapakah akan menyusul kepergian tak elok itu? Mereka yang berimajinasi dangkal, yang berpengertian rendah, yang sarapan pagi dengan para pendengki, yang makan siang dengan kaum oportunis, yang makan malam dengan komplotan penyamun. Setelah kenyang mereka menonton penari gemulai (mungkin setengah bugil) sambil menyusun rencana baru, tertawa terbahak-bahak menyoraki setiap kesuksesan semu, ketika di sisi lain rakyat yang bungkam mendongkol dalam hati. Mereka adalah pemain akrobat di atas seutas tali, yang bangga dengan aksinya, bahkan sadar betul sebuah kecelakaan kecil bisa ‘mematikan’.
Begitupun mereka masing-masing membawa kisah tersendiri, cerita yang kadang menggemaskan, kadang membanggakan, kadang memalukan. Mereka menciptakan sejarahnya sendiri, yang akan jadi rangkaian peta navigasi bagi PENGARUNG berikutnya. Suatu pilihan-pilihan dari berbagai modus, strategi dan capaian.
Saat mereka semakin besar, kala itulah Binahati B. Baeha semakin mengecil dan mengkristal dalam merenungi arti hidup. Ketika mereka menari dengan tingkahan kecapi dalam sebuah pesta ‘ulang tahun pemekaran’, waktu mengharuskan Binahati B. Baeha meringkuk dalam kesepian.
Adakah Sang Waktu berpihak pada Binahati B. Baeha? Mungkin tidak ada. Sang Waktu bahkan tidak adil. Waktu berjalan demikian lamban ketika menghitung hari-harinya dalam kesepian, tetapi berlalu cepat ketika matanya berkedip memandang cakrawala maha luas.
Sampai kapankah Sang Waktu membebaskannya dari beban masa lalu: sebuah kisah haru biru perjalanan ‘Sang Petarung’? Dia terbelenggu untuk menebus rangkaian keputusan-keputusan keberanian masa lalu, sesuatu yang tidak bisa dielakkan kala itu, sesuatu yang juga tidak bisa dihindari kini. Karena itulah dia disebut PEMIMPIN, dan bukan lagi sekedar PEMIMPI, seorang lelaki yang berani mewujudkan lamunannya. Karena itulah dia selalu di depan. Dan sampai kapanpun, bahkan ketika zaman akan berhenti, DIA SELALU TERDEPAN.
Karena itu setiap orang akan terseok-seok untuk mengejarnya dan mereka ditakdirkan oleh KEADILAN WAKTU tidak akan pernah menyusulnya. Mereka hanya akan menjadi sebuah catatan kaki, dan tidak pernah menjadi sebuah judul, bahkan sub judul pun tidak, dari sebuah buku besar sejarah Kepulauan Nias. Karena suatu ketika mereka mereka berakrobat dengan Sang Waktu, mereka terjebak di atas seutas tali oleh sebuah kerakusan. Dan Sang Waktu menghakimi mereka: sebagaimana para pemimpin sebelum mereka: sehebat apapun yang mereka lakukan, mereka menghilang dalam bayangannya sendiri, dan tercecer dalam halaman-halaman catatan Sang Waktu.
Semua itu karena memang dia, BINAHATI B. BAEHA adalah A MAN AMONGST MEN ( seorang pria di antara lelaki).
Dia tidak hanya menjadi pahlawan pemekaran, terlalu kecil ungkapan itu kini untuk menimbang dirinya. Tetapi sebuah legenda pertarungan sang maestro, sebuah kisah pemerdekaan dari keterpencilan, keterbelengguan, kemiskinan, yang tidak akan pernah terjadi lagi. Dia pun tergelincir, terjerembab, terhempas hingga seolah hancur berkeping-keping. Namun, ia tidak terperosok, ia berhasil membangun sebuah fakta tentang dirinya. Karena itu legendanya akan abadi, seabadi namanya, seabadi kisahnya. Sejarahnya akan ditulis dan menjadi buah bibir.
Selamat Natal dan Tahun Baru untuk Sang Maestro Pemekaran, Binahati B. Baeha, nun di tempat nan jauh.
KAMI SUNGGUH MENIKMATINYA, KINI DAN ESOK
Maafkan kami kalau tidak sempat menjengukmu… Maafkan kami kalau seolah tak mengingatmu.
Miga, 30 Desember 2017, sebuah dini Sabtu yang dingin tak berembun.
Salam hangat dari kami:
Samadaya, Murnida, Juan dan Ruth

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply